MSI, SIDRAP — Kinerja Polda Jawa Barat (Jabar) dan Polda Sulsel menunjukkan perbedaan yang mencolok dalam mengungkap sindikat penipuan online atau “passobis”.
Polda Jabar belum lama melakukan penggerebekan di Kabupaten Sidrap, Jumat, 21 Agustus 2026. Berhasil mengamankan 12 orang tersangka.
Dari hasil kejahatan tersebut, sindikat ini diduga meraup keuntungan hingga Rp1,4 Miliar.
Yang menjadi sorotan, penggerebekan dilakukan langsung oleh Ditresiber Polda Jabar. Polres Sidrap dan Polda Sulsel disebut tidak dilibatkan dalam operasi tersebut.
Sementara beberapa waktu lalu, Polda Sulsel penangkapan 19 orang yang disebut terlibat aktivitas passobis di Kecamatan Keera Kabupaten Wajo, Rabu, 12 Agustus lalu.
Namun besoknya, seluruh orang yang sebelumnya diamankan telah dilepas. Barang bukti dan kendaraan yang sempat ikut diamankan juga dikabarkan telah dikembalikan kepada pemilik masing-masing diduga membayaran ratusan juta.
Kontrasnya kinerja instusi yang sama namun berbeda wilayah itu menimbulkan reaksi keras dari berbagai kalangan.
Salah satunya datang dari Ustad Das’ad Latif. Melalui unggahan di media sosial, ia menyindir kinerja polisi lokal.
“Polisi na Jawa Barat jauhna pi Sidrap tangkap PASSOBIS, padahal ada tonji polisi di bumi nenek mallomo ini. Kenapa bisa kamase? magitu sappo?” tulisnya. Sindiran itu ditujukan kepada aparat di “Bumi Nenek Mallomo” julukan untuk Sulsel, dan juga menyinggung tokoh politik setempat.
Hal serupa juga disampaikan, LSM Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Wajo angkat bicara. Bupati LIRA Wajo, Abrar Mattalioe, menyebut ini sebagai tamparan keras untuk Polda Sulsel dan Polres Sidrap.
“Masa iya sindikat penipuan online yang meraup Rp1,4 Miliar dan sudah beroperasi lama di Sidrap justru harus dibongkar oleh Polda Jabar? Di mana fungsi intelijen dan pengawasan di wilayah sendiri? Ini namanya ‘kecolongan’ atau jangan-jangan ‘pembiaran’,” tegas Abrar, Selasa 25 Agustus 2026.
Abrar juga menyoroti tudingan setoran ke oknum Polda Sulsel yang viral di medsos.
“Sekecil apapun tudingan itu, wajib diusut tuntas oleh Propam dan Itwasda. Jangan sampai kepercayaan publik ke Polri makin runtuh hanya karena ulah segelintir oknum. Ini bukti gagalnya pemberantasan kejahatan siber di daerah. Passobis sudah meresahkan masyarakat bertahun-tahun. Korbannya rakyat kecil,” ujarnya.
LIRA mendesak Propam dan Irwasum Polri mengaudit kinerja Polres Sidrap, Polda Sulsel transparan soal hasil penyelidikan tudingan ‘backing’, serta Pemerintah Daerah Sidrap tidak tutup mata terhadap ekosistem penipuan online.
“Jangan sampai kasus ini selesai hanya dengan ‘press release’. Rakyat butuh bukti. Usut, tangkap, dan adili semua yang terlibat, termasuk yang membekingi,” pungkasnya

