Oleh: Nur Zam Khayani

Mahasiswi Magister Kesehatan Masyarakat, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar

Menguatkan Peran Sekolah dalam Pencegahan Penyakit

Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun perilaku hidup sehat dan meningkatkan perlindungan kesehatan anak. Selain menjadi tempat belajar, sekolah dapat menjadi lingkungan yang mendukung edukasi kesehatan, pengenalan awal gejala penyakit, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan.

Salah satu inovasi yang mengembangkan peran tersebut adalah SBS Kesehatan atau Surveilans Berbasis Sekolah Kesehatan. Dikembangkan sejak 2019, program ini mengintegrasikan promosi kesehatan, pengenalan gejala penyakit, pelaporan, dan koordinasi antara sekolah dengan Puskesmas untuk mendukung pencegahan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).

Program ini menghubungkan edukasi kesehatan dengan kegiatan praktis di sekolah. Pelaksanaannya mencakup edukasi, pre-test dan post-test, pengenalan surveilans kepada guru dan wali kelas, deteksi awal gejala, pelaporan melalui grup WhatsApp, serta koordinasi dengan Puskesmas.

Penggunaan teknologi sederhana menjadi salah satu keunggulan pendekatan ini. Namun, kemudahan komunikasi tidak otomatis menjamin keberhasilan surveilans. Program tetap membutuhkan prosedur pelaporan yang jelas, petugas penanggung jawab, tindak lanjut yang terukur, dan perlindungan kerahasiaan data siswa. Guru berperan mengamati dan melaporkan gejala, sedangkan diagnosis serta penanganan medis tetap menjadi kewenangan tenaga kesehatan.

Enam Indikator Inovasi Sosial Perilaku

Nilai inovasi SBS Kesehatan dapat dianalisis melalui enam indikator.

Pertama, kebaruan (novelty). Inovasi terletak pada integrasi promosi kesehatan, pengenalan gejala, pelaporan digital, dan koordinasi dengan Puskesmas dalam satu alur kerja berbasis sekolah.

Kedua, relevansi masalah (problem relevance). Program menjawab kebutuhan peningkatan literasi kesehatan siswa dan penguatan peran sekolah dalam pencegahan penyakit. Relevansinya semakin kuat apabila informasi yang dilaporkan memperoleh tindak lanjut yang tepat.

Ketiga, implementasi (implementation). Pemanfaatan guru, wali kelas, Puskesmas, dan WhatsApp memungkinkan program menggunakan sumber daya yang relatif mudah dijangkau. Meski demikian, keberlanjutan pelaksanaan memerlukan pelatihan, pembagian tugas, dan dukungan institusi.

Keempat, penciptaan nilai (value creation). Program berpotensi meningkatkan pengetahuan, memperkuat perilaku pencegahan, memperbaiki pelaporan gejala, dan mendukung pelaksanaan imunisasi. Manfaat tersebut perlu dibuktikan melalui indikator yang terukur.

Kelima, perubahan (change). Keberhasilan tidak cukup dinilai dari meningkatnya pengetahuan siswa. Program juga perlu mendorong perilaku sehat yang berkelanjutan dan memperkuat keterlibatan guru serta orang tua.

Keenam, adopsi (adoption). Keterlibatan sekolah dan Puskesmas menjadi modal untuk memperluas program. Namun, replikasi perlu menyesuaikan kesiapan sekolah, akses internet, ketersediaan tenaga, dan kapasitas pelayanan kesehatan setempat.

Mengukur Dampak, Bukan Sekadar Pelaksanaan

Tantangan utama SBS Kesehatan adalah memastikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan benar-benar menghasilkan perubahan. Peningkatan skor post-test dapat menunjukkan perubahan pengetahuan setelah edukasi, tetapi belum membuktikan bahwa perilaku sehat bertahan dalam jangka panjang.

Demikian pula, peningkatan jumlah laporan gejala tidak selalu menunjukkan peningkatan kejadian penyakit. Hal tersebut dapat mencerminkan kemampuan sekolah yang semakin baik dalam mengenali dan melaporkan masalah kesehatan.

Karena itu, evaluasi program perlu mencakup perubahan pengetahuan, jumlah sekolah yang aktif, kelengkapan laporan, kecepatan respons Puskesmas, dan cakupan imunisasi pada sasaran yang memenuhi ketentuan. Data harus dikumpulkan secara berkala agar pengelola dapat mengidentifikasi keberhasilan sekaligus memperbaiki kelemahan program.

Penguatan standar operasional prosedur, pelatihan guru, pencatatan yang aman, dan koordinasi dengan orang tua juga penting untuk menjaga kualitas pelaksanaan. Materi imunisasi harus mengikuti pedoman terbaru Kementerian Kesehatan agar informasi mengenai sasaran dan jadwal vaksin tetap akurat.

Mewujudkan Inovasi yang Berkelanjutan

SBS Kesehatan menawarkan pendekatan potensial untuk memperkuat promosi kesehatan dan deteksi dini masalah kesehatan di lingkungan sekolah. Program ini mendekatkan edukasi kepada siswa sekaligus membangun hubungan kerja antara sekolah dan Puskesmas.

Namun, keberlanjutan inovasi tidak cukup bergantung pada kemudahan teknologi atau partisipasi pelaksana. Program membutuhkan prosedur yang konsisten, perlindungan data, sumber daya yang memadai, dan evaluasi berbasis bukti.

Pada akhirnya, keberhasilan SBS Kesehatan tidak seharusnya hanya diukur dari jumlah edukasi atau laporan yang terkumpul. Ukuran yang lebih bermakna adalah sejauh mana pengetahuan berkembang menjadi perilaku sehat, laporan memperoleh tindak lanjut yang tepat, dan anak-anak mendapatkan perlindungan yang lebih baik dari penyakit yang dapat dicegah.

Sehat di Sekolah, Sehat di Masa Depan, perlu diwujudkan melalui kolaborasi berkelanjutan, pelayanan yang responsif, dan hasil evaluasi yang dapat dipertanggungjawabkan