MSI, WAJO — Menteri Agama, Prof Nasaruddin Umar membuka Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional ke-1 dan Nasional VIII di Kampus III Ponpes As’adiyah Macanang, Kabupaten Wajo, Kamis, 2 Oktober.
Dalam sambutannya di hadapan delegasi 34 provinsi dan 10 negara asia tenggara, Nasaruddin memaparkan pentingnya peran pesantren dalam menjaga lingkungan.
Dari itulah, pelaksanaan MQK tahun 2025 mengangkat tema “Dari Pesantren untuk Dunia : Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats”.
Menurutnya, tema tersebut sangat relevan dengan kondisi dunia sekarang. Terjadi kerusakan lingkungan akibat perilaku manusia dalam memperlakukan alam.
Menimbulkan perubahan iklim, pencemaran udara dan air, krisis pangan, serta berkurangnya sumber daya alam.
“Kondisi ini adalah tantangan yang nyata di hadapan kita. Kita menegaskan dunia pesantren tidak diam dalam menghadapi kerusakan lingkungan,” jelasnya.
Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Ponpes As’adiyah membeberkan, pesantren punya cara pandang ekoteologi.
Yaitu memandang alam semesta sebagai amanah yang harus dijaga dan dipelihara.
Santri diajarkan untuk mencintai lingkungan, mengurangi sampah, menanam pohon, hemat energi, dan menjaga kelestarian alam.
“Ya, sebagai bentuk implementasinya, di MQK ini kita ada gerakan ekoteologi “Satu santri Satu Pohon”. Dengan kegiatan ini, pesantren berkontribusi nyata dalam agenda global penyelamatan bumi,”sebutnya.
Jumlah pesantren di Indonesia mencapai 42.369 lembaga, dengan total santri 9.808.318 orang. Angka itu menunjukkan besarnya peran pesantren.
Jumlah tersebut juga menegaskan pesantren adalah salah satu kekuatan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia.
“Pesantren konsisten mengisi kemerdekaan dengan penguatan SDM melalui pendidikan, pembinaan moral, dan pembangunan karakter,” nilainya.
Pelaksana MQK kali ini digelar dengan istimewa dan luar biasa karena pertama kalinya diselenggarakan diwilayah Indonesia Timur, tepatnya di Pesantren As’adiyah, Sengkang, Wajo.
“Penyelenggaraan MQK bagi saya memiliki makna mendalam. Ini bukan sekedar ajang perlombaan, tetapi bentuk ikhtiar kita melestarikan khazanah intelektual pesantren yang termaktub dalam kitab kuning,” jelas pria kelahiran Kabupaten Bone tahun 1959.
Kitab kuning atau turats adalah warisan ulama, karya-karya yang lahir dari kedalaman ilmu, keluasan pengalaman spiritual, serta kepekaan sosial mereka.
